Pengaruh Nama Pada Anak

Oleh: Anna Mariani Kartasasmita, SH. MPsi.

Para ahli sosiologi berpendapat bahwa nama yang berikan orangtua kepada anaknya akan mempengaruhi kepribadian, kemampuan anak dalam berinteraksi dengan orang lain, dan bagaimana cara orang menilai diri si pemilik nama.

Banyak alasan dan pertimbangan para orangtua dalam memilihkan nama anak. Ada yang menyukai anaknya memiliki nama yang unik dan tidak ‘pasaran’. Mungkin mereka tidak suka membayangkan ketika nama anaknya dipanggil di depan kelas, ternyata ada lima orang anak yang maju karena kebetulan namanya sama. Ada yang lebih suka anaknya memiliki nama yang singkat dan mudah diingat. Orangtua seperti ini akan beralasan, “Toh nanti anakku akan dipanggil dengan nama bapaknya di elakang namanya.” Walaupun pernah kejadian orang Indonesia yang diharuskan mengisi suatu formulir di negara Eropa agak kebingungan karena diharuskan mengisi kolom nama keluarga. Padahal sebagaimana juga kebanyakan orang Indonesia, nama yang ada di kartu indentitasnya hanya nama tunggal, tanpa nama keluarga atau bin/binti.

Beberapa orangtua lain memilihkan nama yang megah untuk buah hati mereka. Sementara bagi kalangan tertentu ada kepercayaan jika anak ‘keberatan nama’ nanti bisa sakit-sakitan. Sebagian orang ada yang menganggap nama sebagai sesuatu yang biasa, sekedar identitas yang membedakan seseorang dengan yang lain. Ada lagi yang memilihkan nama untuk anaknya berdasarkan rasa penghargaan terhadap seseorang yang dianggap telah berjasa atau dikagumi. “As a tribute to,” demikian alasannya.

Sebagai orangtua, kita perlu tahu makna dari sebuah nama dan mempertimbangkan yang terbaik untuk anak kita. Bayangkan bahwa anak kita akan menyandang nama tersebut sejak tertulis di akte kelahiran, hingga di hari akhir nanti.

Bagi umat muslim, nama adalah doa yang berisi harapan masa depan si pemilik nama. Para calon orang tua yang peduli tidak hanya berusaha memilih nama yang indah bagi anaknya, tapi juga nama yang memiliki arti yang baik dan memberikan dampak atau sugesti kebaikan bagi anak. Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam buku Pedoman Pendidikan Anak dalam Islam menyebutkan beberapa hal penting tentang pemberian nama kepada anak.

Menurut beliau kita para orangtua hendaknya:

1. Memberikan nama segera setelah bayi dilahirkan. Lamanya berkisar antara sehari hingga tujuh hari setelah dilahirkan. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda, “Tadi malam telah lahir seorang anakku. Kemudian aku menamakannya dengan nama Abu Ibrahim.” (Muslim).

Dari Ashhabus-Sunan dari Samirah, Rasulullah saw. bersabda, “Setiap anak itu digadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan (binatang) baginya pada hari ketujuh (dari hari kelahiran)nya, diberi nama, dan dicukur kepalanya pada hari itu.”

2. Memperhatikan petunjuk pemberian nama, dengan mengatahui nama-nama yang disukai dan dibenci. Ada pun nama-nama yang dianjurkan Rasulullah saw. adalah:

  • Nama-nama yang baik dan indah. Rasulullah saw. menganjurk, “Sesungguhnya pada hari kiamat nanti kamu sekalian akan dipanggil dengan nama-nama kamu sekalian dan nama-nam bapak-bapak kamu sekalian. Oleh karena itu, buatlah nama-nama yang baik untuk kamu sekalian.”
  • Nama-nama yang paling disukai Allah yaitu Abdullah dan Abdurrahman.
  • Nama-nama para nabi seperti Muhammad, Ibrahim, Yusuf, dan lain-lain.

Sedangkan nama-nama yang sebaiknya dihindari adalah:

  • Nama-nama yang dapat mengotori kehormatan, menjadi bahan celaan atau cemoohan orang.
  • Nama yang berasal dari kata-kata yang mengandung makna pesimis atau negatif.
  • Nama-nama yang khusus bagi Allah swt. seperti Al-Ahad, Ash-Shamad, Al-Khaliq, dan lain-lain.

Pengaruh nama pada anak

Orangtua seharusnya berusaha memberikan sebutan nama yang baik, indah dan disenangi anak, karena nama seperti itu dapat membuat mereka memiliki kepribadian yang baik, memumbuhkan rasa cinta dan menghormati diri sendiri. Kemudian mereka kelak akan terbiasa dengan akhlak yang mulia saat berinteraksi dengan orang-orang disekelilingnya.

Anak juga perlu mengetahui dan paham tentang arti namanya. Pemahaman yang baik terhadap nama mereka akan menimbulkan perasaan memiliki, perasaan nyaman, bangga dan perasaan bahwa dirinya berharga.

Bagi lingkungan keluarga, adalah hal yang penting untuk menjaga agar nama anak-anak mereka disebut dan diucapkan dengan baik pula. Sebab ada kebiasaan dalam masyarakat kita yang suka mengubah nama anak dengan panggilan, julukan, atau nama kecil. Sayangnya nama panggilan ini terkadang malah mengacaukan nama aslinya. Nama panggilan ini kadang selain tidak bermakna kebaikan juga bisa mengandung pelecehan. Hal ini kadang terjadi karena nama anak terlalu sulit dilafalkan, baik oleh orang-orang disekitarnya bahkan bagi sang anak sendiri.

Nama yang terdiri dari tiga suku kata atau lebih akan membuat orang menyingkat nama tersebut menjadi satu atau dua suku kata. Misalnya Muthmainah akan disingkat menjadi Muti atau Ina. Sedangkan nama yang memiliki huruf ‘R’ biasanya akan lebih sulit dilafalkan anak yang cenderung cedal pada usia balita. Maka nama-nama seperti Rofiq (yang artinya kawan akrab) akan dilafalkan menjadi Opik, nama Raudah (taman) dilafalkan menjadi Auda.

Nama yang unik dan berbeda apalagi megah, mungkin memiliki keuntungan tersendiri. Namun nama yang demikian dapat menyebabkan beberapa masalah. Nama yang sulit diucapkan dapat membuat orang-orang sering salah mengucapkan atau menuliskannya. Ada suatu penelitian yang menunjukkan bahwa orang sering memberikan penilaian negatif pada seseorang yang memiliki nama yang aneh atau tidak biasa. Dr. Albert Mehrabian, PhD. melakukan penelitian tentang bagaimana sebuah nama mengubah persepsi orang lain tentang moral, keceriaan, kesuksesan, bahkan maskulinitas dan feminitas. Dalam pergaulan anak yang memiliki nama yang tidak biasa mungkin akan mengalami masa-masa diledek atau diganggu oleh teman-temannya karena namanya dianggap aneh. Pernah mendengar ada seseorang yang bernama Rahayu ternyata seorang laki-laki?

Jika ingin menamai anak dengan nama orang lain, ada baiknya memilih nama orang yang sudah meninggal dunia dan telah terbukti kebaikannya. Jika orang tersebut masih hidup, dikuatirkan suatu saat orang tersebut berubah atau mengalami kehidupan yang tercela. Sudah banyak contoh orang-orang yang pada sebagian hidupnya dianggap sebagai orang besar, ternyata di kemudian hari atau di akhir hayatnya digolongkan sebagai orang yang banyak dicela masyarakat. Kita harus menjaga jangan sampai anak kita menanggung malu karena suatu saat dirinya diasosiasikan dengan orang yang tidak baik.

Beruntunglah kita, karena di Indonesia nama-nama Islami sangat biasa dan banyak. Sehingga tidak ada alasan merasa malu atau aneh memiliki nama yang Islami. Hanya saja mungkin dari segi kepraktisan perlu dipertimbangkan nama anak yang cukup mudah diucapkan, tidak terlalu pasaran tapi tidak aneh, dan sebuah nama yang akan disandang anak kita dengan bangga sejak masa kanak-kanak hingga dewasa nanti. Wallahu alam.

(Sumber:dakwatuna.com)

Kartun, Serangan Awal Pada Anak

 

Oleh: Juli Trisna Aisyah Sinaga

Semua orang pernah pasti pernah melihat kartun lucu di televisi atau komik. Kartun memang seyogianya tercipta untuk anak-anak dengan gambar yang lucu dan berbagai cerita ringan yang mudah diterima anak. Kartun juga cepat sekali diserap oleh anak karena ceritanya yang sesuai dengan alur logika dan bahkan seringkali ditiru. Hal tersebut disebabkan karena kecenderungan secara terus-menerus untuk menonton kartun sehingga dapat menjadi “makanan sehari-hari” untuk otak.

Nah, masalahnya adalah apa yang sehari-hari diserap oleh anak-anak yang merupakan calon pejuang Islam ini? Apa yang selama ini mereka tonton, mereka baca, dan mereka tiru dapat mengantarkan mereka menjadi insan-insan pembela agama Allah yang rindu mati syahid atau menjadi cendikiawan penyingkap ilmu yang digunakan untuk mensyukuri kebesaran Allah?

Sebagian besar orang menganggap bahwa hal tersebut merupakan hal yang simple, sepal, dan remeh. Tetapi siapa sangka, bahwa hal yang sering dianggap sebelah mata tersebut ternyata dapat menyebabkan kehancuran yang berdampak sistemik bagi pemikiran anak. Otak manusia terutama anak-anak sangat mudah untuk menyerap informasi. Apapun yang sering masuk ke otak, baik lewat tontonan, bacaan, musik, atau pun suara, akan dapat mempengaruhi pemahaman, pemikiran, dan kepribadian. Anak yang sering mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an dan hadits-hadits nabi akan menghasilkan output yang berbeda dengan anak yang setiap harinya main game online dan nonton televisi. Terkecuali apabila menonton televisi dan mainan game yang bermuatan Islam dan tentunya tidak melalaikan dari kewajiban-kewajiban sebagai umat Islam.

Muatan berbahaya yang diselipkan dalam kartun untuk tontonan dan bacaan anak, di antaranya adalah:

1. Kekerasan (Violence)

Seringkali tontonan dan komik bergambar kartun memuat unsur kekerasan dan kriminalitas. Contohnya adalah Tom and Jerry yang selalu berkelahi dan memuat unsur perpecahan.

Ada juga tokoh-tokoh pada kartun bermandikan darah, saling memukul, membunuh, dan menghancurkan seperti One Piece, Naruto, Bleach, dan lainnya. Adegan-adegan mengerikan tersebut dengan cepat diserap oleh otak anak dan otak pun akan memberikan stimulus untuk melakukan hal yang serupa dengan adegan yang telah diperhatikan tersebut. Hal ini tercermin dari kasus anak yang meniru gulat SmackDown dengan menindih temannya sendiri melalui tontonan kartun SmackDown melalui internet.

Tayangan SmackDown boleh dibilang efektif merangsang ‘insting binatang’ dari manusia. Pakar pendidikan Arief Rachman menuturkan adegan kekerasan yang ditayangkan televisi sangat efektif merangsang insting manusia yang paling rendah yang menyamai binatang. “Insting ini yang paling berbahaya,” katanya. (Koran Tempo, 29 November 2006).

2. Racun-racun sekuler

Sekuler merupakan paham yang memisahkan agama dari kehidupan dunia. Hal ini justru sangat bertentangan dengan ajaran agama Islam yang mengatur manusia secara kaffah (menyeluruh). Kartun pada tontonan dan bacaan anak seolah berlomba memberikan hidangan gaya hidup yang permisif dan hedonis. Di dalamnya seringkali terdapat adegan yang memperlihatkan unsur-unsur keterbukaan dalam pakaian, freesex, homoseksual, lesbian, gaya hidup barat, dan liberalisme. Kartun pun sangat mudah untuk didapatkan dan ditonton, misalnya melalui televisi, situs online, penjualan bebas, persewaan buku, dan download internet. Contoh kartun yang memperlihatkan sisi liberalism ada banyak, salah satunya adalah SpongeBob Squarepants. Di salah satu serial ceritanya, mengisahkan tentang SpongeBob dan Patrick yang menjadi orangtua untuk mengurus kerang kecil. SpongeBob menjadi ibunya dan Patrick menjadi ayahnya. Secara tidak langsung, dalam serial kartun ini menyelipkan tentang pelegalan dalam homoseksual. Serial anime atau manga pun selalu berisi gambar adegan ciuman dan keterbukaan aurat.

Tanpa disadari, tunas-tunas revolusi bangsa sudah “disuapi” dengan virus sekuler di saat ayah dan ibu bekerja. Seringkali orangtua tidak menyadari akan hal yang tersembunyi di balik “jajanan” untuk otak anak mereka. Kartun yang dianggap sebagai tontonan yang aman ternyata merupakan virus berbahaya yang bisa mengubah pemikiran dan pengembangan diri anak. Untuk itu, orang tua harus lebih selektif dalam menentukan tontonan dan bacaan yang terbaik untuk anak. Perkuat pertahanan dengan membina anak menjadi pejuang Islam dengan syariah Islam.

“Didiklah anak-anakmu dengan tiga perkara: mencintai Nabimu, mencintai ahlul baitnya, dan membaca Al-Qur’an karena orang-orang yang memelihara Al-Qur’an itu berada dalam lindungan singgasana Allah pada hari ketika tidak ada perlindungan selain daripada perlindungan- Nya, mereka beserta para nabiNya dan orang-orang suci”. (HR ath Thabrani).

Setiap orangtua pasti menginginkan buah hatinya menjadi anak yang shalih dan shalihah. Untuk mendapatkan semua itu, tentu harus ada upaya keras dari orangtua dalam mendidik anak. Salah satu hal yang wajib diajarkan kepada anak adalah Al-Qur’an yang merupakan pedoman hidup manusia. Selain itu, perkuatlah anak dengan bacaan dan tontonan tentang kisah Nabi, perang suci dan jihad, propaganda anti Barat dan hal-hal yang mengandung unsur Islami lainnya. Jadikan anak sebagai generasi Islam yang bermental baja dan mampu berjuang untuk agama, bangsa, dan negara.

(Sumber: dakwatuna.com)

Membantu Suami Menjadi Ayah Yang Hangat

Oleh: Dian Yasmina Fajri

Ibu dengan peran domestik yang melekat erat pada dirinya secara alami terlibat aktif dalam membesarkan anak.  Tidak demikian dengan ayah, kesibukannya bekerja, aktivitas hobi, sosial dan politik menyebabkannya baru sampai di rumah tengah malam hingga sedikit sekali waktu untuk bercengkerama dengan anak-anaknya. Padahal Rasulullah sendiri banyak mencontohkan interaksi yang hangat kepada anak–anak, cucu dan para remaja di lingkungannya. 

Banyak sekali manfaat dari kehangatan seorang ayah pada anak-anaknya antara lain membantu dalam perkembangan kognitif, psikologis, sosial dan kesehatan fisik anak. Keterlibatan ayah dalam berinteraksi dengan buah hatinya biasanya tergantung sejauh mana ia melihat pentingnya melakukan hal itu dan memutuskan untuk terlibat langsung.  Oleh karenanya peran ibu sangat di anjurkan untuk membantu suami menjadi ayah yang hangat, menjadikan ayah peduli dan merasa penting untuk terlibat aktif.

Belum semua ayah terlibat dalam mengurus anak-anaknya.  Tidak hanya di Indonesia, peran ayah dalam keluarga pun menjadi isu penting di China.  Di sana para ayah untuk bekerja saja (belum dengan kegiatan sosial atau menjalankan hobi) meninggalkan rumah pukul 7 pagi   baru sampai di rumah pukul 23.  Qi Dahui, seorang ahli pengasuhan dan pendidikan keluarga dan presiden PKU College Education Research Institute, mengatakan

“Kurangnya sosok pria dalam pendidikan keluarga telah menjadi faktor penting dalam masalah memburuknya alienasi jenis kelamin anak, terutama pada keluarga yang memiliki anak laki-laki.”

Dahui merujuk pada masalah yang banyak dibahas dalam masyarakat tentang kelemahan dan kurangnya tingkat maskulinitas pada anak laki-laki dan pria muda di China karena hanya dibesarkan oleh ibunya dan kurangnya panutan pria dalam keluarganya. (artikel Detik Health Senin, 18/06/2012 15:02 WIB)

Kombinasi didikan ibu dan ayah sangat bermanfaat bagi anak. Kaum pria dalam mendidik memiliki ciri-ciri lebih condong kepada kemandirian, maka dia akan mendidik anaknya untuk mandiri. Sering ayah tidak mau mewakili anaknya untuk memborong pekerjaan, melainkan memberi semangat kepada anaknya untuk menyelesaikan masalah secara mandiri, maka kadar untuk memanjakan anak agak sedikit. Sedangkan ibu lebih banyak memborong semua pekerjaan, misalnya tak mau anaknya ikut-ikutan mencuci piring, baik alasannya kasihan takut anak terlalu lelah, atau malah tak mau di repotkan karena dapur jadi becek.

Ibu tak senang bila anak belepotan lumpur, tapi ayah tak keberatan.  Sebenarnya ini baik sebab jika manusia ini terlalu bersih, jarang sekali ber-sentuhan dengan kuman dan virus, dalam tubuhnya tidak bisa timbul antibodi, sekali terserang oleh kuman segera akan jatuh sakit.

Bila anak terjatuh, padahal tidak menangis, ibu bergegas datang menghampiri memapahnya berdiri sambil menepuk-nepuk tanah dan mengusap-usap bagian yang terjatuh, mengusap keluar air mata sang anak dengan paksaan. Sedangkan ayah hanya berkata, “Hati-hati, ayo berdiri lagi, anak hebat pasti bisa.”

Dalam masyarakat kita masih banyak ayah yang beranggapan berinteraksi dengan anak secara intens adalah urusan ibu, ia harus terlihat kuat berwibawa. Kadang anak yang ingin bermain dengan ayah atau bertanya yang agak mendetail di anggap mengganggu waktu istirahat atau cerewet, padahal saat itu ayah hanya sedang sibuk dengan laptop atau gadgetnya.  Akibatnya menimbulkan jarak emosional dengan anaknya

Bantu Dia Meneladani Rasul

Untuk membantu suami bersikap hangat pada anak, ibu bisa membekali diri tentang pengetahuan dari hal-hal yang telah di lakukan Rasul terhadap anak.

  1.  Dari Abu Hurairah suatu hari Al Aqra bin Haris melihat Rasulullah saw sedang mencium al Hasan. Al Aqra berkata ia punya 10 anak tapi belum pernah mencium satu pun dari mereka.  Rasul bersabda : siapa yang tidak menyayangi , dia tidak di sayang ( Hr. Tirmidzi)
  2. Suatu kali Rasulullah di datangi penduduk desa yang tidak suka mencium anak-anaknya. Rasul bersabda: Tiada kuasa aku (menolong kamu) jika Allah telah mencabut sifat belas kasih dari hatimu. (HR. Bukhari)
  3. Anas bin Malik berkata tak ada orang yang paling sayang pada keluarganya melebih Rasulullah saw. Suatu hari beliau pernah menjulurkan lidahnya hanya untuk menggoda Hasan sebagai wujud kasih sayangnya.
  4. Al Haitsami dalam majma’uz Zawa’id dari Abu laila. Ia berkata: Aku sedang berada dekat Rasulullah, saat itu aku melihat Hasan dan Husein di bopong beliau. Salah satu anak itu pipis di dada dan perut beliau. Airnya mengucur, aku dekati Rasul. Rasul bersabda:” Biarkan kedua anakku jangan kau ganggu mereka, sampai ia selesai melepaskan hajatnya.”  Lalu Rasul membawakan air.
  5. Kadang rasul ketika melihat cucunya sedang bermain di jalan bersama teman-temannya, beliau membentangkan tangan hendak memeluk dan cucunya berlarian ke sana kemari.
  6.  Dari Anas bin Malik RA berkata: Sungguh Rasul bersabda kepadanya “Wahai pemilik dua telinga” selanjutnya Mahmud menjelaskan bahwa Abu Usamah berkata: maksudnya bersenda gurau. ( HR Tirmidzi)
  7. Ketika burung kecil peliharaan adik Anas bin Malik mati. Rasul menghiburnya, menyebutnya dengan panggilan orang tua.

Dari Anas bin Malik RA berkata: Sesungguhnya Rasulullah bergaul akrab dengan kami sehingga beliau bersabda kepada adikku yang masih kecil: “Wahai Pak Umair apa yang di lakukan burung kecil itu?” (HR Tirmidzi)

  1. Kadang Rasul memercikkan air ke muka salah seorang anak-anak dengan maksud bergurau.

Semua yang dilakukan Rasulullah tak sedikit pun mengurangi kewibawaan dan kemuliaannya.

Ayah Hangat, Anak Cerdas

Pernah bertemu dengan orang yang super sensitive, hati-hati mungkin karena pengalaman masa lalu. Keterlibatan ayah berinteraksi dengan anak memberi nilai positif pada berbagai perkembangan jiwa dan kesehatan anak. Beberapa penelitian menyebutkan hal tsb.

  1. Perkembangan kognitif.  Secara jangka panjang, anak yang dibesarkan dengan keterlibatan ayah  dalam pengasuhan akan  memiliki prestasi  akademik serta ekonomi yang baik, kesuksesan dalam karir, pencapaian pendidikan terbaik dan kesejahteraan psikologis (Flouri, 2005)
  2. Kesejahteraan psikologis .Secara keseluruhan kehangatan yang ditunjukkan oleh ayah akan berpengaruh besar bagi kesehatan dan kesejahteraan psikologis anak, dan meminimalkan masalah perilaku yang terjadi pada anak (Rohner & Veneziano, 2001).
  3. Membantu perkembangan sosial.  Kehangatan, bimbingan serta pengasuhan yang diberikan oleh ayah memprediksi kematangan moral, yang diasosiasikan dengan perilaku prososial dan perilaku positif yang dilakukan baik oleh anak perempuan maupun anak laki-laki (Mosely & Thompson, 1995).
  4. 4.      Meningkatkan kesehatan fisik. Suami yang memberikan dukungan emosional kepada istri yang hamil, mengakibatkan terjadinya kondisi kehamilan prima dan proses persalinan normal serta anak yang sehat (Teitler, 2001). Horn dan Sylvester (2002) menyatakan anak-anak yang tidak tinggal bersama ayah, sebagian besar mengalami masalah kesehatan.

Ayah Hangat, Ayah Hebat

  1. Ayah yang terlibat dalam pengasuhan, lebih matang secara sosial (Pleck,1997), merasa lebih puas dengan kehidupan mereka(Eggebean & Knoester,2001),
  2. Mampu memahami diri dan berempati dengan orang lain, serta mengelola emosi dengan baik (Heath, 1994).
  3. Keterlibatan ini akan menciptakan kekerabatan, serta interaksi yang erat dalam keluarga besar (Knoester & Eggebean, 2006).
  4. Kondisi ini juga turut berperan bagi partisipasi positif yang diberikan ayah dalam pekerjaan, sehingga mampu meningkatkan kondisi perekonomian keluarga (Lerman & Sorensen, 2000).
  5. Ayah yang terlibat dalam pengasuhan, akan memberikan pengaruh terhadap kebahagiaan perkawinan. Kestabilan dalam perkawinan, akan memunculkan perasaan bahagia walaupun perkawinan tersebut telah dijalani hingga dua puluh tahun (Snarey, 1993).

Apa yang Bisa Dilakukan Ibu?

Beragam hal bisa di lakukan ibu untuk mendekatkan ayah pada anaknya dan membuatnya bersikap hangat.  Berikut ini hanya beberapa ide yang mungkin bisa di terapkan:

  1. Laporkan semua tingkah polah anak pada hari itu, tentu dengan melihat kondisi ayah yang telah siap , misalnya ayah sudah mandi atau saat ibu  sedang melayani makan, tentu ibu yang paling tahu kapan saat yang paling tepat, karena tiap orang bisa berbeda moodnya. Tak peduli ibu mungkin terlihat cerewet, atau ayah kelihatan acuh dengan matanya menatap Koran atau gadgetnya ketika ibu bicara, paling tidak ayah jadi ikut menghayati apa yang terjadi pada anaknya.
  2. Katakan anak-anak rindu padanya, memanggil-manggil dan mencari-cari ayah siang tadi. Katakan betapa anak sangat sayang pada ayahnya.
  3. Meminta ayah mengantar anak ke sekolah, momen ini bisa di gunakan untuk mengobrolkan keadaan anak, muraja’ah hafalan, atau sekadar bercanda yang mengakrabkan.  Tapi ada kalanya anak malu di antar ke sekolah, dan mengaku pada temannya bahwa ia di antar sopir atau ojek hanya karena ayah tidak memperhatikan pakaiannya.
  4. Memberi kesempatan anak untuk menelepon ayahnya di siang hari saat ayah sedang di kantor. Atau sms ayah untuk sekadar “say hi” pertelepon untuk anaknya di siang hari.
  5. Biarkan ayah punya kesempatan beraktivitas dengan anak-anak, misal masak bersama (walaupun dapur jadi lebih kotor dari biasanya).  Membersihkan halaman bersama (dengarkan betapa cerewetnya ayah ketika menyuruh-nyuruh anaknya).
  6. Sekalipun ayah hanya punya waktu sedikit mintalah ia merencanakan waktunya untuk dekat dengan anak lewat canda, bercengkerama dan ciuman yang penuh kasih.
  7. Bila anak masih balita, mintalah anak agar ayah yang menceritakan buku kesukaannya walaupun setelah itu mungkin ayah akan bergegas untuk rapat urusan partai/sosial.  Bila sudah agak besar sarankan ayah untuk mereferensikan buku-buku yang bagus untuk anaknya, mereka bisa  membaca bersama sebentar, kemudian anak meneruskan membaca sendiri
  8. Jangan biarkan ayah terlalu sering memberi nasihat.  Rasulullah kadang menunda nasihat agar pendengarnya tidak jemu.
  9. Jangan terlalu banyak mencela, Imam Ghazali dalam ihya ulumuddin berkata: jangan ayah sering mencela anaknya/ karena keseringan mendengar cela menjadi biasa/menumpulkan hati dari nasihat yang mulia/ wahai ayah… jagalah kharisma nasihat dan kata/ berilah cela kepada anak sewaktu –waktu saja.

(Penyusun, RKI, BKK DPD: Dian Yasmina Fajri, pm 19.06.12)

Referensi:

Yusuf Qaradhawi, (1995), GIP.  Fatwa-fatwa Kontemporer

Adnan Hasan Shalih Baharits, GIP, (1996) Tanggungjawab ayah terhadap anak laki-laki,

Sheikh Abu Al Hamd Rabee’, LK3I, 2011Membumikan harapan keluarga Islam Idaman

Jurnal Psikologi Undip Vol. 9, No. 1, April 2011

Alfaro, E.C., Umana-Taylor, A.J. & Bamaca, M.Y. (2006). The influence of academic support on Latino adolescents’ academic motivation. Family Relations, 55 (3), 279-291

Eggebean, D.J. & Knoester, C. (2001). Does fatherhood matter for men? Journal of Marriage and the Family, 63, 381-393.

Flouri, E. (2005). Fathering and child outcomes. West Sussex, England: John Wiley & Sons Ltd.

Knoester, C. & Eggebeen, D.J. (2006). The effects of the transition to parenthood and subsequent children on men’s well-being and social participation. Journal of Family Issues, 27 (11), 1532-1560.

Lerman, R. & Sorensen, E. (2000). Father involvement with their nonmarital children: Patterns determinants, and effects on their earnings. Marriage and Family Review, 29 (2/3), 137-158.

Mosley, J. & Thompson, E. (1995). Fathering Behavior and Child Outcomes: The role of race and poverty. In W. Marsiglio, (Ed.), Fatherhood: Contemporary theory, research, and social policy (pp. 148-165). Thousand Oaks, CA: Sage, 1995.

Pleck, J.H. (1997). Paternal involvement: Levels, sources, and consequences. In M.E. Lamb (Ed.) The role of the father in child development (3rd ed., pp. 66-103). New York: John Wiley & Sons, Inc.

Teitler, J.O. (2001). Father involvement, child health, and maternal health behavior. Children and Youth Services Review, 23(4/5), 403-425.

(Sumber: dakwatuna.com)

Pengaruh Lingkungan dalam Pendidikan

Oleh: Kusnadi El-Ghezwa

Pendidikan merupakan sebuah proses, bukan hanya sekedar mengembangkan aspek intelektual semata atau hanya sebagai transfer pengetahuan dari satu orang ke orang lain saja, tapi juga sebagai proses transformasi nilai dan pembentukan karakter dalam segala aspeknya. Dengan kata lain, pendidikan juga ikut berperan dalam membangun peradaban dan membangun masa depan bangsa.

Peran pendidikan bagi suatu bangsa sangat penting. Dan itu tidak bisa di pungkiri lagi, sehingga pendidikan dan pengajaran mutlak diperlukan bukan hanya untuk membangun suatu peradaban yang lebih bagus tapi itu merupakan kewajiban bagi setiap orang. Sebagian orang menjadikan ta’lim dan ta’allum (belajar dan mengajarkan ilmu) bukan sebagai kewajiban, tapi sebagai kebutuhan, dalam arti bahwa ta’lim dan ta’allum merupakan thariqah (jalan hidup). Bukan hanya sekedar konsepsi tapi sudah menjadi tradisi.

Sebagaimana Islam yang diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad SAW mengandung implikasi kependidikan yang bertujuan untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi sekalian alam). Di dalamnya terkandung suatu potensi yang mengacu kepada dua fenomena perkembangan, yaitu:

1. Potensi psikologis yang mempengaruhi manusia untuk menjadi sosok pribadi yang berkualitas bijak dan menyandang derajat mulia melebihi makhluk-makhluk lainnya.

2. Potensi perkembangan kehidupan manusia sebagai ‘khalifah’ di muka bumi yang dinamis dan kreatif serta responsif terhadap lingkungan sekitarnya, baik yang alamiah maupun yang ijtima’iyah dimana Tuhan menjadi potensi sentral perkembangannya.

Namun ketika kita melihat problematika pemuda yang terbentang di hadapan kita sekarang sungguh sangat kompleks sekali, mulai dari masalah pengangguran, krisis mental, krisis eksistensi, hingga masalah dekadensi moral. Belum lagi budaya primitif dan pragmatisme yang kian merebak membuat sebagian pemuda terjebak dalam kehidupan hedonis, serba instan dan tercabut dari idealisme sehingga cenderung menjadi manusia yang anti sosial.

Apalagi ketika melihat anak-anak sekarang jauh lebih dewasa secara psikologis dibanding umurnya, sedikitnya ada tiga factor yang mempengaruhi perkembangan anak-anak didik sekarang. Inilah yang menurut penulis menjadi sorotan penting bagi kita sebagai anak didik agar bisa lebih berhati-hati di dalam bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan. Pertama, anak-anak dipaksa hidup dengan bahasa dan gaya hidup orang dewasa. Kedua, lingkungan. Ketiga, teknologi.

Pertama, anak-anak dipaksa hidup dengan bahasa dan gaya hidup orang dewasa. Ada banyak uraian akan hal ini. Salah satu di antaranya adalah tidak adanya lagu anak-anak yang bertemakan kejenakaan dan bertemakan dunia anak-anak. Anak sekarang mulai usia sebelum sekolah sudah dipaksa membiasakan diri mendengarkan lagu-lagu dewasa yang celakanya lagi adalah rata-rata lagu dewasa itu bertemakan cinta pada lawan jenis, yang secara psikologis masih belum layak menjadi konsumsi anak-anak. Sehingga, anak-anak kecil sekarang ini sudah terbiasa mendengar kata pacar, cinta, dan hal-hal yang berhubungan dengan ikatan dewasa tersebut.

Kedua, lingkungan. Ya, lingkungan-lah yang paling bertanggung jawab atas teronaninya anak-anak kita hingga menjadi dewasa sebelum waktunya. Bagaimana tidak, saat sekarang ini, para orang dewasa secara sadar atau tidak mengajari anak-anaknya untuk berpacaran. Saat ada teman lawan jenisnya datang ke rumah, biasanya sang ibu atau ayah akan pergi meninggalkan mereka berdua. Belum lagi lingkungan sekitar yang menunjukkan bagaimana muda-mudi yang berlalu lalang dengan pasangannya masing-masing dan menjadi pemandangan lumrah bagi anak-anak yang sedang asyik bermain.

Ketiga, teknologi. Harus diakui teknologi mengambil peran penting terhadap hal ini. Dulu untuk mendapatkan konten pornografi kita harus bersusah payah mendapatkannya. Sekarang tinggal download atau Bluetooth saja. Dan parahnya lagi, hp anak-anak sudah sangat memungkinkan untuk menyimpan, menonton, bahkan hingga membuat atau menyebarkan. Akhirnya seringkali terjadi bisik-bisik di kalangan anak-anak lebih keras dan kencang dibanding bisik-bisik pada orang dewasa.

Dalam hal ini Ibnu Kholdun menegaskan bahwa

Kalau yang satu telah lebih dahulu   (datang)   mempengaruhinya, sifat   yang lain   akan   menjauh dalam   bentuk   yang   seimbang, sehingga   menjadi   sukar baginya untuk memperoleh sifat yang telah menjauh itu. Orang-orang yang memiliki sifat kebaikan itu telah terlebih dahulu mempengaruhi dirinya, sehingga telah menjadi sifat yang tertanam dalam jiwanya, ia akan terjauh dari   kejahatan, dan sukar baginya     untuk   melakukan kebaikan. Apabila kebiasaan-kebiasaan yang jahat itu terlebih dahulu sampai kepadanya, maka akan menjauh dari sifat kebaikan.

Dalam kutipan tersebut, menunjukkan suatu teori yang dilahirkan oleh Ibn Khaldun bahwa, manusia pada dasarnya adalah baik, pengaruh yang datang kemudianlah yang akan menentukan apakah jiwa manusia tetap baik, atau menyimpang menjadi jahat. Jika pengaruh baik yang terlebih dahulu datang, maka jiwanya akan menjadi baik. Demikian pula sebaliknya. Ibn Khaldun juga menegaskan, bahwa sifat kebaikan   dan kejahatan   telah   tertanam   sedemikian   rupa, sehingga telah menjadi malaikat-nya.

Dengan demikian, manusia diberi   kemungkinan mendidik diri dan orang lain. Di sinilah tergambar, bahwa dia memiliki kemauan bebas untuk menentukan dirinya sendiri melalui ikhtiarnya. Jika ia menginginkan menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa maka ia harus kuat dan tangguh di dalam menghadapi panasnya kehidupan dan pengaruh yang datang dari luar maupun dari dalam.

(Sumber: dakwatuna.com)

Meletakkan Anak Dalam Pelukan atau Pangkuan

Oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah

عن عائشة ـ رضي الله عنها ـ ” أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ وضع صبياً في حجره يُحنكه ، فبال عليه ، فدعا بماء فأتبعه ” رواه البخاري .

Dari Aisyah RA, bahwa Nabi Muhammad SAW meletakkan anak kecil di pelukannya kemudian mentahniknya (menyuapi dengan kurma yang telah dikunyahnya), lalu anak itu kencing di pelukannya, lalu meminta air dan mengguyurnya. (HR. Al Bukhari)

Penjelasan:

عن عائشة ـ  Istri Nabi Muhammad SAW

أن النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ وضع صبياً  Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW meletakkan anak kecil, yaitu Abdullah bin Az Zubair, seperti yang diriwayatkan oleh Ad Daru Quthniy, atau anak itu adalah Al Husain bin Ali seperti dalam riwayat Al Hakim.

حجره  Ha’ dibaca kasrah, ada pula yang membacanya fathah, dan jim dibaca sukun/mati. Keterangan keadaan ketika Nabi يُحنكه mentahniknya, yaitu menyuapinya kurma setelah kurma itu dikunyahnya, untuk mendapatkan berkah ludah Nabi Muhammad saw, yang bercampur dengan rasa kurma yang manis.

فبال عليه  Lalu anak itu mengencingi bajunya, فدعا بماء فأتبعه lalu Nabi mengguyur bekas kencing itu dengan air.

Dari hadits ini dapat diambil pelajaran, antara lain:

  1. Menyayangi anak kecil, dan memperhatikannya. Nabi Muhammad saw meletakkan anak itu dalam pelukannya dan mentahniknya
  2. Bersabar menghadapi perilakunya, tidak membalasnya, karena belum mukallaf (bertanggung jawab).

 

عن أسامه بن زيد ـ رضي الله عنهما ـ قال : ” كان رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ يأخذني فيقعدني على فخذه ، ويقعد الحسن ابن عليّ على فخذه الأخرى ، ثم يضمهما ، ثم يقول : اللهم ارحمهما ، فإني أرحمهما ”  رواه البخاري

Dari Usamah bin Zaid RA, berkata: Rasulullah saw pernah mengangkatku dan mendudukkan aku di atas pahanya, dan Hasan bin Ali duduk di paha yang lain, kemudian Rasulullah saw memeluk kami berdua, dan bersabda: Ya Allah sayangilah keduanya, karena sesungguhnya aku menyayanginya. (HR. Al Bukhari)

Penjelasan:

عن أسامه بن زيد Dari Usamah bin Zaid bin Haritsah, dipanggil pula

الحِب ابن الحِب      kesayangan putra kesayangan Rasulullah SAW, -lalu Rasulullah mendudukkan aku di atas pahanya dan Al Hasan bin Ali duduk di paha lainnya. Hal ini menunjukkan perhatian dan cinta Rasulullah kepada keduanya.

Usamah lebih tua dari Al Hasan. Mayoritas pendapat tentang umur Al Hasan adalah ketika Rasulullah saw wafat ia berusia  8 (delapan) tahun, sedangkan Usamah ketika itu berusia 19 (sembilan belas) tahun. Rasulullah saw memeluk keduanya kemudian berdoa: ”Ya Allah sayangilah keduanya, karena sesungguhnya kami menyayanginya dan mengasihinya.

Hadits ini berisi tentang keutamaan Usamah bin Zaid dan Hasan bin Ali, dengan curahan cinta Rasulullah saw kepada keduanya.

Dari hadits ini dapat diambil pelajaran, antara lain:

Bahwa meletakkan anak kecil di pangkuan adalah salah satu bentuk rahmat dan kasih sayang. Hal ini membuktikan rasa cinta.

(Sumber: dakwatuna.com)

Pentingnya Perhatian Terhadap Anak

Oleh: Sri Kusnaeni

Bismillahirrahmaanirrahim.
Manusia, sebagai makhluk sosial, memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dan berkomunikasi. Demikian juga dengan anak-anak, sebagaimana orang dewasa, dia juga butuh berinteraksi dan berkomunikasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, interaksi dan komunikasi antara anak dan orang tua sangat penting, di mana hal ini akan membentuk kepribadian anak. Dari interaksi, anak belajar banyak hal, melihat contoh, merasakan dan mengamati. Seluruh sikap dan tingkah orang tua akan menjadi cermin bagi anak-anaknya. Maka orang tua harus memberikan contoh terbaik untuk anak-anaknya. Terlebih lagi ibu, karena secara fitrah, ibulah yang relatif lebih banyak bersama anak. Syair Arab mengatakan bahwa: al Ummu madrasatul ula: ibu adalah sekolah yang pertama (buat anak anaknya).

Bagi seorang anak, perhatian dari orang tua, memiliki arti yang sangat penting. Perhatian akan membuat jiwanya menjadi kaya, dan merasa dirinya dihargai dan dianggap penting. Sebaliknya, jika anak kurang mendapatkan perhatian, dia akan merasa bahwa dirinya tidak penting dan perlahan akan timbul kekecewaan dan putus asa. Sekecil apapun perhatian orang tua terhadap anaknya, menjadi penting bagi perkembangan jiwanya. Meski hanya dalam bentuk belaian, ungkapan/ucapan sayang, senyuman, memuji sikap baiknya, menghargai hasil karyanya, mendengarkan kisahnya, sesekali menemaninya bermain. Kedekatan secara psikologis akan terjalin dengan berbagai aktivitas tersebut. Anak akan merasa nyaman, jiwa nya stabil, dan emosinya terkendali. Semua ini merupakan modal yang sangat penting bagi kehidupan anak di masa yang akan datang. Dalam bergaul di tengah masyarakat kelak, di dalam menghadapi berbagai tugas di tempat kerjanya dan dalam menyelesaikan seluruh persoalan, kestabilan jiwa, pengendalian emosi dan perasaan yang nyaman akan sangat dibutuhkan.

Munculnya berbagai peristiwa kejahatan yang dilakukan oleh anak dan remaja, yang membuat kita prihatin, adalah menjadi salah satu indikator adanya sesuatu yang kurang beres dalam interaksi orang tua dengan anak. . Miris mendengarnya, ketika masih dalam suasana peringatan hari anak nasional tanggal 23 juli, di Depok, seorang anak umur 14 tahun , melakukan pembunuhan terhadap 2 orang ( Bapak dan anak), dengan dalih masalah ekonomi, dia diiming-imingi motor oleh orang yang menyuruhnya untuk melakukan pembunuhan. Sering juga kita mendengar, kasus –kasus tawuran pelajar antar sekolah, yang terjadi di berbagai daerah. Kasus-kasus seperti ini, muncul karena anak tidak mendapatkan kehangatan jiwa, emosi yang labil mudah tersulut dan perasaan yang tidak nyaman dalam keluarga dan sekelilingnya. Meski benar bahwa lingkungan akan mempengaruhi perilaku seorang anak, tapi manakala nilai-nilai dalam keluarganya kokoh, lingkungan tidak akan memberikan pengaruh besar. Anak punya imunitas/manaah kuat dari pendidikan orang tua di dalam keluarga.

Kisah sedih seputar perhatian terhadap anak

Beberapa tahun lalu, pernah dimuat sebuah kisah nyata di sebuah harian nasional, kisah sedih dari negeri seberang. Di sebuah keluarga yang cukup berada. Suami istri berkarir di luar rumah. Anak perempuannya selama ini di rumah ditemani oleh pembantunya saja. Suatu hari, anaknya berharap ketika ibunya pulang kantor, dia akan menunjukkan hasil karyanya di sekolah kepada ibunya. Dia berharap sang ibu akan memuji dan menghargai hasil karyanya. Tapi apa yang terjadi, sang ibu pulang dari kantor tidak mempedulikan hasil karya anaknya, dan menyuruhnya untuk disimpan dulu, dia capai mau istirahat.

Duhai, betapa sedih dan hancur hati anak tersebut. Harapannya hilang, senyumnya hambar, matanya basah diusapnya dengan ujung jarinya sambil lari menuju kamar pembantunya. Semalaman sang anak meratapi kesedihannya, kecewa batinnya terhadap sikap ibunya. Pikirannya mulai mengembara, gerangan apa yang dilakukannya untuk membalas kekecewaan hatinya.

Syetan pun menggodanya, dan memberikan inspirasi. Pagi hari ketika ibunya mau berangkat ke kantor, betapa kaget dan kesal hati sang ibu, ketika mendapatkan body mobil kesayangannya penuh dengan goresan-goresan kasar dari benda-benda runcing/tajam. Ini semua dilakukan oleh sang anak, sebagai kompensasi kekesalan terhadap ibunya. Ibu karena kalap, begitu mengetahui bahwa semua itu karena ulah anaknya, spontan memukul tangan anaknya dengan sebuah benda. Tak pernah dibayangkan sebelumnya, ternyata bekas pukulan tadi membuat tangan anak luka dan tak kunjung sembuh, menjadi borok yang oleh dokter direkomendasikan agar diamputasi.

Tragis dan miris…….. Yang tersisa hanyalah penyesalan. Penyesalan besar yang berawal dari kurang kesadaran dan kemauan seorang ibu untuk bisa memberikan perhatian tulus kepada anaknya. Jika sudah seperti ini, siapa yang akan disalahkan? Belajar dari kesalahan orang lain, mestinya membuat kita sebagai orang tua semakin arif /bijaksana dalam berinteraksi dengan anak-anak kita. Anak adalah amanah dari Allah yang kelak harus kita pertanggungjawabkan kepadaNya. Hadir ke dunia dalam keadaan fitrah, harus kembali kepadaNya juga dalam keadaan fitrah. Kullu maulidin yuuladu alal fitrah. Selamat menikmati hari bersama buah hati.

 (Sumber: dakwatuna.com)

Mempersiapkan Anak Yang Menyejukkan Pandangan

Oleh: Dr. Attabiq Luthfi, MA

Dan orang-orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah untuk kami isteri-isteri dan anak keturunan kami yang menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al-Furqan: 75)

Imam Ibnu Katsir memahami qurratu a’yun dalam ayat ini sebagai anak keturunan yang taat dan patuh mengabdi kepada Allah. Ibnu Abbas menjelaskan bahwa keluarga yang dikategorikan qurratu a’yun adalah mereka yang menyenangkan pandangan mata di dunia dan di akhirat karena mereka menjalankan ketaatan kepada Allah, dan memang kata Hasan Al-Bashri tidak ada yang lebih menyejukkan mata selain dari keberadaan anak keturunan yang taat kepada Allah swt.

Secara bahasa, anak dalam bahasa Arab lebih tepat disebut dengan istilah At-Thifl Pengarang Al-Mu’jam al-Wasith mengartikan kata At-Thifl sebagai anak kecil hingga usia baligh. Kata ini dapat dipergunakan untuk menyebut hewan atau manusia yang masih kecil dan setiap bagian kecil dari suatu benda, baik itu tunggal.

Kamus besar bahasa Indonesia mengartikan anak sebagai keturunan kedua. Disamping itu anak juga berarti manusia yang masih kecil. Anak juga pada hakekatnya adalah seorang yang berada pada suatu masa perkembangan tertentu dan mempunyai potensi untuk menjadi dewasa seiring dengan pertambahan usia. Dalam kontek ini, maka anak memerlukan bantuan, bimbingan dan pengarahan dari orang dewasa (orang tua dan para pendidik).

Berdasarkan pembacaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebut kata Ath-Thifl yang berarti anak yang masih kecil sebelum usia baligh, maka terdapat empat ayat yang menyebut kata ini secara tekstual. Dua ayat berbicara tentang proses kejadian manusia yang berawal dari air mani, yaitu surah Al-Hajj: 5 dan surah Ghafir: 67. Sedangkan kedua ayat lainnya yang menyebut kata At-Thifl terdapat dalam surah An-Nur : 31 dan 59 yang menjelaskan tentang adab seorang anak di dalam rumah terhadap kedua orang tuanya.

Yang paling mendasar dalam pembahasan seputar anak tentu tentang kedudukan anak dalam perspektif Al-Qur’an agar dapat dijadikan acuan oleh orang tua dan para pendidik untuk menghantarkan mereka menuju kebaikan dan memelihara serta meningkatkan potensi mereka. Al-Qur’an menggariskan bahwa anak merupakan karunia sekaligus amanah Allah swt, sumber kebahagiaan keluarga dan penerus garis keturunan orang tuanya. Keberadaan anak dapat menjadi: 1) Penguat iman bagi orang tuanya [QS: 37: 102] seperti yang tergambar dalam kisah Ibrahim ketika merasa kesulitan melakukan titah Allah untuk menyembelih Ismail, justru Ismail membantu agar ayahnya mematuhi perintah Allah swt untuk menyembelihnya, 2) Anak bisa menjadi do’a untuk kedua orang tuanya. [QS: 17: 24], 3) Anak juga dapat menjadi penyejuk hati (Qurratu A’ayun), [QS: 26: 74], 4) menjadi pendorong untuk perbuatan yang baik [QS: 19: 44]. Akan tetapi, pada masa yang sama, anak juga dapat menjadi 5) fitnah, [QS: 8; 28] 6), bahkan anak dapat menjelma menjadi musuh bagi orang tuanya. [QS: 65: 14]

Maka dari itu, para ulama sepakat akan pentingnya masa kanak-kanak dalam periode kehidupan manusia. Beberapa tahun pertama pada masa kanak-kanak merupakan kesempatan yang paling tepat untuk membentuk kepribadian dan mengarahkan berbagai kecenderungan ke arah yang positif. Karena pada periode tersebut kepribadian anak mulai terbentuk dan kecenderungan-kecenderunganya semakin tampak. Menurut Syekh Fuhaim Musthafa dalam karyanya Manhaj al-Thifl al-Muslim: Dalilul Mu’allimin wal Aba’ Ilat-Tarbiyati Abna masa kanak-kanak ini juga merupakan kesempatan yang sangat tepat untuk membentuk pengendalian agama, sehingga sang anak dapat mengetahui, mana yang diharamkan oleh agama dan mana yang diperbolehkan.

Dalam hal ini, keluarga merupakan tempat pertama dan alami untuk memelihara dan menjaga hak-hak anak. Anak-anak yang sedang tumbuh dan berkembang secara  fisik, akal dan jiwanya, perlu mendapatkan bimbingan yang memadai. Di bawah bimbingan dan motifasi keluarga yang continue akan melahirkan anak-anak yang dikategorikan ‘qurratu a’yun’.

Untuk mewujudkan semua itu, maka sejak awal Islam telah menyoroti berbagai hal di antaranya penegasan bahwa awal pendidikan seorang anak dimulai sejak sebelum kelahirannya, yaitu sejak kedua orang tuanya memilih pasangan hidupnya. Karena pada dasarnya anak akan tumbuh dan berkembang banyak tergantung dan terwarnai oleh karakter yang dimiliki dan ditularkan oleh kedua orang tuanya. Di antara tujuan disyariatkan pernikahan adalah terselamatkannya keturunan dan terciptanya sebuah keluarga yang hidup secara harmonis yang dapat menumbuhkan nilai-nailai luhur dan bermartabat.

Dalam konteks ini, Al-Ghazali yang kemudian dikuatkan prinsip-prinsipnya oleh Ibn Qayyim al-Jauzyyah menegaskan bahwa pendidikan di lingkungan keluarga sangatlah penting, oleh kerena itu pelaksanaannya harus dilakukan dengan baik, dengan pembiasaan dan contoh-contoh teladan, memberikan permainan yang wajar dan mendidik, jangan sampai memberikan permainan yang mematikan hati, merusak kecerdasan, menghindarkannya dari pergaulan yang buruk. Pengaruh yang positif diharapkan akan menjadi kerangkan dasar bagi anak untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya serta bagi pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya. Membangun kerangka dasar pada anak usia dini dapat diibaratkan membangun sebuah bangunan bertingkat. Bangunan seperti itu tentu saja akan dimulai dengan membuat kerangka pondasi yang sangat kokoh yang mampu menopang bagian bangunan yang ada di atasnya. Demikian pula anak-anak yang memiliki pondasi yang kuat dan kokoh ketika usia dini maka akan menjadi dasar dan penopang bagi perkembangan anak memasuki pendidikan selanjutnya, termasuk mempersiapkan hidupnya di tengah masyarakat.

Menurut pandangan Syekh Mansur Ali Rajab dalam karyanya Ta’ammulat fi falsafah al-Akhlaq terdapat paling tidak lima aspek yang dapat diturunkan dari seseorang kepada anaknya, yaitu: 1). Jasmaniyah, seperti warna kulit, bentuk tubuh, sifat rambut dan sebagainya. 2). Intelektualnya, seperti, kecerdasan dan atau kebodohan. 3) tingkah laku, seperti tingkah laku terpuji, tercela, lemah lembuat, keras kepala, taat, durhaka. 4) alamiyah, yaitu pewarisan internal yang dibawa sejak kelahiran tanpa pengaruh dari faktor eksternal. 5) sosiologis, yaitu pewarisan yang dipengaruhi oleh faktor eksternal.

Ibn Qayyim Al-Jauzyyah dalam salah satu karyanya yang monumental tentang pendidikan anak ’Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud’ menegaskan bahwa setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, suci dan selamat dari penyimpangan dan menolak hal-hal buruk yang membahayakan dirinya. Namun lingkungan yang rusak dan pergaulan yang tidak baik akan menodai kefitrahan anak dan dapat mengakibatkan berbagai penyimpangan dan pada gilirannya akan menghambat perkembangan akal fikirannya. Sehingga tujuan akhir dari dari pendidikan anak prasekolah adalah memberikan landasan iman dan mental yang kokoh dan kuat pada anak, sehingga akan hidup bahagia bukan saja di saat ia dewasa dalam kehidupannya di dunia, tetapi juga bahagia di akherat, bahkan diharapkan dapat mengikut sertakan kebahagiaan itu untuk kedua orang tua, guru dan mereka yang mendidiknya.

Sehingga pendidikan anak usia dini pada hakekatnya juga merupakan intervensi dini dengan memberikan rangsangan edukasi sehingga dapat menumbuhkan potensi-potensi tersembunyi (hidden potency) serta mengembangkan potensi tampak (actual potency) yang terdapat pada diri anak. Upaya mengenal dan memahami barbagai ragam potensi anak usia dini merupakan persyaratan mutlak untuk dapat memberikan rangsangan edukasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan perkembangan potensi tertentu dalam diri anak. Upaya ini dapat dilalukan dengan memahami berbagai dimensi perkembangan anak seperti bahasa, intelektual, emosi, social, motorik konsep diri, minat dan bakat.

Tujuan lain dari pemberian program simulasi edukasi adalah melakukan deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan potensi-potensi yang dimiliki anak. Gangguan ini dapat muncul dari dua faktor, yakni faktor internal yang terdapat dalam diri anak dan dan faktor ekternal yang berwujud lingkungan di sekitar anak, baik yang berwujud lingkungan fisik seperti tempat tinggal, makanan dan alat-alat permainan ataupun lingkungan sosial seperti jumlah anak, peran ayah/ ibu, peran nenek/ kakek, peran pembantu, serta nilai dan norma sosial yang berlaku.

Ayat di atas yang menjadi doa sehari-hari setiap orang tua yang mendambakan hadirnya keturunan yang qurratu a’yun, hendaknya dijadikan acuan dalam pembinaan anak, sehingga tidak lengah sesaatpun dalam upaya melakukan pengawasan, pendidikan dan pembinaan anak-anak mereka. Itulah diantara ciri Ibadurrahman yang disebutkan pada ayat-ayat sebelumnya yang memilki kepedulian besar terhadap nasib anak-anak mereka di masa yang akan datang. Semoga akan senantiasa lahir dari rahim bangsa ini generasi yang qurratu a’yun, bukan hanya untuk kedua orang tuanya, tetapi juga masyarakatnya dan bangsanya. Amin.

(Sumber: dakwatuna.com)