Konsep Pendidikan Anak Menurut Ibn Sina

 

 

 

Oleh : Syah Reza*

Pendahuluan

   Suatu kebahagiaan yang sangat bermakna bagi pasangan suami-istri adalah ketika mereka dikaruniai Allah seorang anak. Barangkali itu adalah awal dari sebuah kebahagiaan. Namun, sebenarnya tidak cukup hanya sebatas itu, tentu  proses mendidik harus terus dilakukan secara baik dan intensif sebagai tanggungjawab mereka. Bagaimanapun sebuah kebahagiaan hakiki yang dirasakan oleh kedua orangtua adalah ketika anak-anak yang dilahirkan mampu menjadi generasi terbaik, teladan bagi ummat dan bermanfaat bagi agama dan alam seisinya. Untuk mewujudkannya tidak seperti membalikkan telapan tangan. Butuh perhatian yang serius, strategi yang baik, kesabaran yang kuat, keistiqamahan yang lebih, terhadap pendidikan anak. Ibarat menanam benih tanaman, jika dirawat secara baik, dipupuk, dijaga dari hama perusak, maka ketika tumbuh besar ia pun akan baik pula, hijau daunnya, kuat batangnya juga manis buahnya, dan begitu juga sebaliknya. Maka pendidikan anak (tarbiyat al-aulad) adalah tugas utama dan terpenting bagi orang tua.

            Umumnya sebagian orang menganggap pendidikan anak hanya sebatas perawatan secara fisik dan pengajaran terhadap hal-hal yang belum ia ketahui. Orangtua yang tidak memiliki pemahaman lebih dalam hal pendidikan anak cenderung menganggap perawatan anak sejak bayi, saat penyapihan (menyusui), balita sampai dewasa hanya memperhatikan unsur personal dari anak tersebut. Mereka seakan mengabaikan bahwa sikap dan tingkah laku dari orangtua tidak akan berpengaruh pada kepribadian anak. Pemahaman demikian justru keliru, karena sejak kecil anak cenderung  merekam semua yang ditangkap dari sekelilingnya dan menjadi modal pertama mereka dalam membentuk kepribadiannya. Perhatian orang tua dalam kehidupan modern seperti sekarang ini hanya merawat ‘kulit luar’ saja. Makanan, penampilan, kebersihan dan kesehatan fisik, tapi mengabaikan unsur terdalam dari seorang anak yaitu moral.  Psikologi modern sering mengabaikan hal demikian, sehingga seringkali kita melihat akibat dari ketidakpeduliaan dalam persoalan tersebut anak mengalami krisis moral dan agama, melakukan hal-hal negatif, narkoba, mabuk, perjudian, perkelahian, seks bebas, dan sebagainya.

            Sebenarnya Islam telah mengatur sebuah konsep pendidikan anak. Al-Qur’an dan sunnah sebagai sumber pedoman dalam hal ini, yang kemudian oleh ulama menyusun secara sistematis dalam bentuk konsep dan ilmu. Di antara ulama yang membahasnya yaitu Ibn Sina.[1] Ia secara khusus dan ringkas membahas tentang pendidikan anak. Dalam kitabnya as-Siyasat, Ibn Sina menjelaskan bahwa unsur pendidikan anak secara moral adalah pendidikan yang memiliki nilai yang sangat tinggi. Misalkan pemberian nama pada anak yang mungkin terkesan sederhana, namun sebenarnya nama mampu memberi pengaruh dalam perjalanan kehidupannya. Menurut Ibn Sina, seorang anak harus diberikan dengan nama yang baik dan mengandung makna yang baik pula. [2] Karena nama tersebut akan menjadi nama resminya baik ketika di dunia maupun di akhirat kelak.

Cara dan Tahapan Mendidik Anak

         Dalam pendidikan terhadap anak, Ibn Sina juga menunjukkan pentingnya memberi perhatian terhadap pendidikan dan pembelajaran anak semenjak masa kanak-kanak awal, dimulai semenjak penyapihan (menyusui) sampai si anak memperoleh akhlak dan kebiasaan yang baik. Ibn Sina menunjukkan bahwa jika pendidikan anak diabaikan pada usia dini, maka akhlak dan kebiasaan buruk bisa jadi akan tertanam, akibatnya kelak akan sulit untuk melepaskan diri darinya. Pendapat yang dikemukakan Ibn Sina tersebut telah melampaui Sigmund Freud dan para psikolog modern yang menyatakan pentingnya tahun-tahun pertama masa kanak-kanak bagi pembentukan kepribadiannya dan memperoleh ciri khas moralitas.

     Ibn Sina juga menunjukkan pentingnya penggunaan reward and punishment (pemberian penghargaan/hadiah dan hukuman) dalam mendidik dan mengajarkan akhlak serta prilaku yang baik kepada mereka. Ibn Sina menyebutkan beberapa jenis reward yang dapat digunakan dalam mendidik anak, yaitu bersikap positif terhadap anak, memperlihatkan prilaku yang baik, dan meridhai semua prilakunya yang baik, serta memujinya. Ibn Sina juga menyebutkan macam-macam punishment yaitu ancaman, pengabaian, dan celaan. Ketiga punishment tersebut harus ditempatkan sesuai kadar pelanggaran yang mereka lakukan. Jika punishment tersebut tidak berpengaruh dalam mencegah kenakalan si anak, maka dibolehkan menggunakan pukulan tangan yang tidak terlalu keras juga tidak terlalu ringan, sampai si anak menjadi sadar.[3]

         Sebelum terjerumus dalam kepribadian dan kebiasaan yang tercela, maka cara yang seharusnya utama dilakukan oleh orang tuanya menurut ibn Sina adalah dengan menjauhkan mereka dari akhlak yang buruk dan menghindarkan mereka dari kebiasaan yang buruk, dengan at-tarhib dan at-targhib, al-inas dan al-ihasy, al-‘iradh dan al-iqbal, serta kadang-kadang dengan pujian dan celaan yang secukupnya. Tetapi jika membutuhkan penggunaan tangan yang tak dapat dihindari, maka pukulan pertama hendaknya menimbulkan rasa sakit, seperti saran dari para ahli hikmah (sufi). Sebab, pukulan pertama yang menimbulkan rasa sakit akan membuat anak menganggap pukulan berikutnya lebih sakit dan karenanya akan menimbulkan ketakutan. Jika pukulannya ringan dan tidak menyakitkan, maka anak menganggap pukulan berikutnya biasa-biasa saja sehingga tidak membuatnya jera.[4]

         Kemudian ketika meranjak beberapa tahun di saat badan anak sudah menguat, mampu berbicara dan siap untuk mendapatkan pelajaran maka pengajaran al-Qur’an, prinsip agama, huruf hijaiyah, prinsip menulis, kisah dan puisi bisa dimulai. Syair-syair atau puisi yang dipilih hendaknya berkaitan dengan keutamaan etika, pujian ilmu, jeleknya kebodohan, buruknya sifat nakal atau ’bandel’ dan melawan, anjuran berbakti kepada kedua orang tua, berbuat kebajikan, hormat pada tamu, dan akhlak mulia lainnya.[5]

Syarat Seorang Pendidik

     Selanjutnya mengenai kriteria seorang pendidik, Ibn Sina menekankan agar para pendidik memiliki agama, akhlak, kepribadian yang seimbang, kehalusan budi, kelembutan bahasa, dan mengetahui metode pendidikan anak. Ini artinya, Ibn Sina menunjukkan pentingnya memilih guru karena berpengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian murid.

      Setelah berhasil mempelajari al-Qur’an dan bahasa, maka ia mulai diajarkan jenis keahlian tertentu atau profesi yang menjadi tujuan pelatihannya. Ibn Sina menyebutkan bahwa orang yang mendidik anak tentang keahlian dan profesi tertentu harus mengetahui bahwa tidak semua keahlian yang diinginkan anak dapat dilakukan, melainkan keahlian yang sesuai dengan tabiat dan bakatnya.

      Ibn Sina juga berkata, “jika pendidik anak ingin memilih keahlian, maka pertama-tama ia harus menimbang tabiat si anak, menggali bakatnya dan menguji kecerdasannya, lalu ia memilih keahlian sesuai dengan hal itu. Jika si pendidik memilihkan salah satu keahlian untuk anak didiknya, maka ia harus mengetahui kadar bakat dan hobinya. Ia harus melihat, apakah keahlian tersebut dilakukan atas dasar pengetahuan atau tidak? Apakah perangkat dan alatnya membantunya atau justru menghambatnya? Baru setelah itu ia menetapkan tekad. Itulah cara yang paling tepat dalam mendidik anak yang tidak membuat hilang masa kanak-kanak tanpa bekal.[6]

         Dengan ungkapan tersebut Ibn Sina menunjukkan adanya perbedaan individual di antara anak dalam hal kesiapan dan kemampuan, serta pentingnya bantuan dalam memilih profesi yang sesuai dengan kesiapan, kemampuan dan bakat anak. Inilah yang disebut dengan bimbingan karier oleh para pakar modern.

Kesimpulan

     Pendidikan anak adalah integrasi antara pendidikan akhlak (jiwa) dan fisik. Keduanya harus berjalan secara bersamaan dan ia saling mempengaruhi satu sama lain. Namun, sesungguhnya peran jiwa sangat mendominasi terhadap tingkah laku seorang anak. Maka seharusnya pendidikan anak semenjak kecil lebih banyak diutamakan pada pendidikan akhlak (jiwa), selain kebutuhan fisik dan skil yang juga harus selalu dipenuhi, seperti yang dikemukakan oleh ibn Sina di atas. Yang pasti, Ibn Sina telah melampaui psikolog modern dalam membahas tahapan-tahapan pendidikan anak -meskipun secara praktis kita belum begitu mengetahuinya-. Selain memperhatikan aspek tes kecerdasan, kesiapan, dan bakat anak dalam bimbingan karier mereka, Ibn Sina juga menggarisbawahi peran kedua orang tua sebagai  pendidik sangat penting, ini yang membuatnya lebih otoritatif dibandingkan psikolog modern. Karena kedua orang tua adalah pelaku utama dalam menentukan masa depan anaknya, maka masa depan anak (menjadi positif atau negatif) tergantung bagaimana orang tua mendidiknya. Tentu hal ini sangat sesuai dengan apa yang disampaikan Rasulullah Saw. dalam sebuah Hadistnya bahwa,“setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (tidak mempersekutukan Allah) tetapi orang tuanya lah yang menjadikan dia seorang yahudi atau nasrani atau majusi…”. (HR. Bukhari). Wallahu’alam

 

*mahasiswa pascasarjana ISID gontor-Ponorogo

[1] Ibnu Sina yang umumnya dikenal di Barat hanya sebagai ahli kedokteran fisik, sebenarnya di dalam Islam dia lebih dikenal sebagai filusuf muslim yang pakar dalam berbagai ilmu, tertutama dalam psikologi. Ibn Sina menulis ganyak karya, Ibnu khalkan dalam bukunya Wafiyat al-‘Ayan berkomentar, “sesungguhnya ada 100 buah karya yang ditulis oleh Ibn Sina.”, lebih lanjut biografinya bisa di baca  tulisan “konsep jiwa dalam pandangan Ibn Sina”.  http://rezaaceh.wordpress.com/2011/07/31/konsep-jiwa-dalam-pandangan-ibn-sina/

[2] Ahmad Fuad al-Ahwani, Ibn Sina, Kairo: Dar al-Ma’arif, 1985.

[3] Muhammad Ustman Najjati, ad-Dirasah an-Nafsaniyyah ‘inda al-Ulama al-Muslim.

[4] Ahmad Fuad al-Ahwani, Ibn Sina.., h. 12-13.

[5] Ibid., h. 13.

[6] Ibid., h. 14.

(sumber: rezaaceh.wordpress.com)

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s