Generasi Penuh Cinta

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang Mukmin dan bersikap keras terhadap orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Mahamengetahui”. (QS. Al-Maidah : 54)

 

          Rumah itu sederhana saja. Luasnya tak lebih dari 5 x 4 m2 saja. Atapnya dibuat dari pelepah kurma, dilapisi dinding batu bata yang tahan api. Tak ada permadani mewah di dalamnya, sebab lantai pun hanya terbuat dari tanah saja. Setiap hari orang-orang hilir mudik masuk ke rumah itu. Sekadar duduk-duduk sebentar atau  berbicara tentang masalah yang tengah dihadapi kala itu.

Namun, peristiwa yang sama selalu muncul pada orang-orang yang datang ke rumah itu. Mereka yang datang dengan mata sembab akan pulang dengan rona senyum. Dia yang dating dengan perut keroncongan, akan pulang dengan perut sedikit menggembung, ditambah dua tangannya menggenggam aneka makanan untuk dibagikan pada yang lain. Terpancar ada harapan yang ingin tertunaikan. Peristiwa itu berjalan setiap hari.

Di rumah itu, hidup lelaki bersahaja dengan setiap embusan napasnya selalu menebarkan rasa cinta. Rasa kasih. Tidak hanya kepada orang-orang yang dekat kepadanya, bahkan musuhnya sekalipun.

Syahdan, suatu ketika ada seseorang yang dating ke lelaki tersebut. Ia berasal dari suku bani Salim yang terkenal kampiun dalam praktek sihir. Tanpa tedeng aling-aling ia melontarkan makian pada lelaki itu. Menyebutnya sebagai orang gila, bahkan lebih rendah dari gila.

Sang Nabi, yang mendapat makian itu, hanya tersenyum. Alih-alih membalas, Nabi hanya menjawab dengan kelemah-lembutan. Si ahli sihir itu begitu heran menghadapi sikap ini. Ia tergeragap, tak siap dengan jawaban yang ia terima. Tak pernah dirinya bisa membayangkan ada lelaki seperti ini.

Lambat laun, putaran hidup si ahli sihir berputar seratus delapan puluh derajat. Ia malah jadi tertarik buat memeluk Islam. Nabi lalu bertanya:

“Apakah Anda berbekal makanan?”

“Tidak.”jawab si ahli sihir. Nabi pun bertanya pada umat Muslim yang hadir di tempat itu:

“Adakah orang yang mau menghadiahkan seekor unta tamu kita ini?” Mu’ad ibn Ibada menghadiahkan seekor unta. Kemudian Nabi minta kepada Salman untuk membawa orang itu ke tempat seseorang saudara seagama Islam yang dapat memberinya makan, karena dia lapar.

Salman membawa orang yang baru masuk Islam itu mengunjungi beberapa rumah, tetapi tidak seorang pun yang dapat memberinya makan, kearna waktu itu bukan waktu orang makan.

Akhirnya Salman pergi ke rumah Fatimah. Dengan air mata berlinang, Fatimah  mengatakan bahwa di rumahnya tidak ada makanan sejak tiga hari yang lalu.

“Saya tidak dapat menolak seorang tamu yang lapar tanpa memberinya makan sampai kenyang,” kata Fatimah.

Fatimah lalu melepas kain kerudungnya, lalu memberikannya kepada Salman, dengan permintaan agar Salman membawanya barang itu ke Shamoon, seorang Yahudi, untuk ditukar dengan jagung. Salman dan orang yang baru saja memeluk agama Islam itu sangat terharu. Dan orang Yahudi itu pun sangat terkesan atas kemurahan hati putri Nabi, dan ia juga memeluk agama Islam dengan menyatakan bahwa Taurat telah memberitahukan kepada golongannya tentang berita akan lahirnya sebuah keluarga yang amat berbudi luhur.

“Sebaik-baik qurun (abad atau generasi) adalah generasi aku (generasi beliau dan sahabat-sahabatnya), kemudian generasi setelah mereka, kemudian generasi sesudah mereka.”  (HR.Bukhari)

Ihwal Generasi Penuh Cinta

Cinta. Satu kata ini selalu saja menarik untuk diperbincangkan. Setiap generasi punya ceritanya sendiri soal ini. Namun, apakah Islam mengenal tentang ini?

Jawabannya tentu saja. Namun, sayangnya selama ini masyarakat terdistorsi oleh informasi yang beredar satu arah saja. Dalam informasi tersebut digambarkan seolah-olah dalam Islam tidak dikenal dengan apa yang disebut cinta. Bahayanya, stigma kekerasan atau anti-kasih menjadi stigma buat kalangan Muslim.

“Jika seperti itu, seharusnya ini menjadi alarm buat umat Muslim. Ingat dari semenjak Islam datang dan disebarkan, itu selalu dilakukan dengan cinta kasih. Islam dan cinta itu ibarat dua sisi mata uang, tak terpisahkan,” kata KH.Muchtar Adam, pimpinan pondok pesantren Babussalam, Bandung.

Menurut KH. Muchtar sudah selayaknya umat Islam mencoba melawan stigma negatif tersebut.

“Ingat dengan cerita Rasul bersama pengemis buta yahudi di sudut pasar Madinah? Seperti itulah cara rasul mengajari kita cinta kasih dengan sesama,” ujar KH. Muchtar mengingatkan.

Dengan seperti itu diharapkan distorsi informasi itu akan terpupus dengan sendirinya.

“Dan itu ada di pundak setiap generasi,” tambah KH. Muchtar.

Menanggapi hal tersebut, Salim A. Fillah, penulis buku Jalan Cinta Para Pejuang, menyambut positif apa yang dikatakan KH.Muchtar.

“Sudah selayaknya setiap generasi Muslim, utamanya generasi saat ini, mempunyai pesan cinta dan kasih dalam setiap langkah kehidupannya,” ujar Salim.

Cinta seperti apakah itu?

Bagi kedua narasumber, saat ini umat Islam bisa mencontoh generasi-genarasi sahabat yang telah melakukannya terlebih dahulu tentang bagaimana menyebarkan rasa cinta kasih.

“Jadi bukan dengan cara mengobral cinta, seperti manusia zaman sekarang,” keduanya, bersepaham.

KH. Muchtar mengingatkan bahwa cinta atau bahkan mencintai dalam Islam itu tidaklah dilarang. Namun, ketika muncul perasaan tersebut harus didasarkan oleh Allah semata. Selain itu cinta dalam Islam mempunyai dua hubungan. Hubungan cinta secara horizontal antara manusia dengan manusia lalu hubungan manusia dengan Rabb-Nya. Di sini ditekankan agar hubungan horizontal itu dapat membawa manusia untuk merasakan cinta yang vertikal terhadap Rabb-Nya.

Jika sudah seperti itu, yang akan tercipta adalah generasi yang dalam setiap langkahnya dipenuhi cinta kasih berdasarkan Allah semata, yang sebagian ulama memberikan istilah generasi Rabbani. Generasi yang di dalamnya terdapat generasi manusia yang beriman kepada Allah, Rasulullah Saw dan ajarannya, hidup bersamanya, menjadikan Alquran dan Hadits sebagi rujukan dalam segala aspek kehidupan.

Kata Rabbani sendiri diambil dari kata dasar Rabb, yang artinya Sang Pencipta. Kemudian diberi imbuhan huruf alif dan nun. Dengan imbuhan ini, makna bahasa ‘rabbani’ adalah orang yang memiliki sifat yang sangat sesuai dengan apa yang Allah harapkan. Kata ‘rabbani’ merupakan kata tunggal, untuk menyebut sifat satu orang. Sedangkan bentuk jamaknya adalah rabbaniyun.

“Inilah generasi penuh cinta versi Islam. Generasi rabbani. Generasi yang telah dicontohkan oleh Rasuldan para sahabat, ” kata Salim.

Dari beberapa literatur para ulama berpendapat bahwa ada beberapa ciri-ciri yang dimiliki oleh generasi ini yakni, 1) ‘Aalim, yaitu orang yang mendalam ilmunya; 2) Faqieh, yaitu orang yang benar dan mendalam pemahaman agamanya; 3) Haliem, yaitu orang yang sabar dan santun; 4) Hakiem, yaitu orang yang memiliki sikap bijaksana; 5)‘Aabid, yaitu orang yang ahli ibadah, dan 6)Muttaqien, yaitu orang yang ahli takwa.

Cinta yang timbul dari generasi ini adalah cinta yang membawa manfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Meminjam, kata seorang sastrawan, bukan cinta egois yang hanya bisa dinikmati oleh dua orang saja. Andai seperti ini, generasi penuh cinta itu bukanlah sebuah keniscayaan. Generasi Rabbani yang di dalamnya cinta itu penuh manfaat dan membawa maslahat.

(Ferry Fauzi Hermawan/ dbs/ed:hbs)

Sumber: tabloid Alhikmah edisi 67 Februari 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s